LOMBOK TENGAH — Ratusan warga Kampung Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, kini kehilangan tempat tinggal beserta mata pencaharian setelah kebakaran hebat melanda kawasan tersebut pada Sabtu (22/8). Peristiwa yang tercatat sebagai kebakaran ketujuh dan paling parah ini tidak hanya menghanguskan hunian, tetapi juga merusak sejumlah fasilitas adat dan fasilitas umum.
Berdasarkan pendataan di lapangan, api melalap 75 rumah warga, 69 toko seni (art shop), satu unit masjid, balai desa, gerbang adat, lumbung, serta belasan berugak atau gazebo khas Sasak. Kebakaran juga menjangkau sekitar 20 unit rumah di luar kawasan utama desa adat, membuat total kerugian material ditaksir mencapai Rp34 miliar.
Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan NTB Bidang Kehormatan Partai, Ir. Made Slamet, mengungkapkan bahwa pihaknya turun langsung ke lapangan untuk memetakan kebutuhan warga yang paling mendesak. Hasilnya, bantuan logistik berupa mi instan dan telur dinilai sudah relatif melimpah, namun warga justru kekurangan bantuan non-pangan dasar.
"Paling utama adalah perlengkapan sekolah anak-anak. Seragam, pakaian, buku, hingga sepatu habis terbakar. Pendidikan mereka harus tetap berjalan," tegas Made Slamet yang juga anggota DPRD NTB itu.
Selain perlengkapan sekolah, kebutuhan pokok ibu rumah tangga seperti peralatan memasak, kompor, dan pakaian ganti menjadi prioritas yang belum terpenuhi secara maksimal di lokasi pengungsian.
"Bantuan makanan banyak, tetapi alat untuk memasaknya yang kurang. Pakaian ibu-ibu dan anak-anak juga habis, mereka bertahan dengan pakaian yang melekat di badan," tambahnya.
Di tengah proses pemulihan, warga—khususnya generasi muda—mengharapkan adanya penataan ulang kawasan berbasis konsep tradisional yang lebih tertata dan aman. Made Slamet menyampaikan bahwa aspirasi ini muncul sebagai pelajaran berharga dari peristiwa kebakaran yang kerap terulang di kampung adat tersebut.
"Masyarakat berharap kawasan ini segera dibangun kembali dengan konsep menyerupai tata ruang desa tempo dulu, tidak terlalu padat, serta mempertimbangkan keamanan instalasi listrik dan kompor gas," paparnya.
Ia menegaskan, PDI Perjuangan NTB mendukung penuh aspirasi warga agar proses pemulihan kawasan wisata budaya tersebut tetap mempertahankan karakter dan kearifan lokal. DPD PDI Perjuangan NTB saat ini tengah menggalang bantuan lanjutan dari internal pengurus, jajaran anggota legislatif, serta berkoordinasi dengan DPP PDI Perjuangan untuk menyuplai kebutuhan penunjang secara bertahap.
"Posko Baguna akan tetap beroperasi mendampingi warga hingga kondisi berangsur normal. Bagi kami, hadir dan berbagi beban bersama rakyat adalah komitmen nyata di lapangan," pungkas Made.