LOMBOK TENGAH — Proses pemadaman yang berlangsung intensif membuat kobaran api di Kampung Adat Sade akhirnya bisa dikendalikan. Namun, pemandangan memilukan tak terhindarkan. Rumah-rumah adat yang sebagian besar berdinding kayu dan beratap ilalang itu rata dengan tanah, menyisakan tumpukan material hangus yang masih mengepulkan asap tipis.
Kebakaran yang terjadi Sabtu (22/8) malam sekitar pukul 22.00 Wita itu membuat warga kehilangan banyak hal. Selain perabotan rumah tangga, sejumlah warga kehilangan perhiasan berharga dan benda pusaka peninggalan leluhur seperti keris dan kitab tua.
Setelah api dipastikan padam, sejumlah pemilik rumah perlahan kembali ke lokasi. Mereka tak ingin menyerah begitu saja pada keadaan. Mardun, salah satu warga, terlihat tekun mengumpulkan karung-karung beras yang merupakan bantuan sosial (bansos) yang ia terima sebelum musibah ini terjadi. Sebagian karung sudah hangus, tetapi bagian tengahnya masih utuh dan bisa dimanfaatkan.
“Kita lagi kumpulin beras ini, menyelamatkan apa yang bisa kita selamatkan,” ujar Mardun kepada NTBSatu di lokasi kejadian.
Upaya serupa juga dilakukan warga lain. Azam, misalnya, terlihat menyisir tumpukan puing di lokasi rumahnya. Ia berharap bisa menemukan kembali perhiasan dan keris pusaka milik keluarganya yang sempat tertinggal saat api membesar.
“Kita juga sedang cari perhiasan, keris,” kata Azam.
Meski kehilangan hampir seluruh harta benda, semangat warga tak luntur. Eva, seorang warga lainnya, mengaku tak sempat menyelamatkan barang apa pun saat api mulai membesar. Baginya, keselamatan diri adalah yang utama.
“Ga sempat nyelamatin apa-apa, Mbak. Yang penting selamatin diri sendiri dulu,” ungkapnya.
Hal senada diungkapkan Azam. Ia bersyukur tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran yang melanda kampung adat tersebut.
“Yang penting tidak ada korban jiwa, kalau ini bisa lah nanti,” jelasnya.
Kebakaran hebat yang melanda kawasan wisata budaya ini diduga cepat membesar karena material bangunan rumah adat yang dominan mudah terbakar. Struktur kayu, anyaman bambu, serta atap dari ilalang kering membuat api dengan cepat merambat dari satu bangunan ke bangunan lainnya.
Tak hanya rumah tinggal, kobaran api juga menghanguskan sejumlah aset warga lainnya. Beberapa sepeda motor yang terparkir di dekat rumah ikut menjadi sasaran amukan si jago merah, begitu pula dengan warung milik warga yang sehari-hari menjadi sumber penghidupan.
Sebanyak lebih dari 100 personel pemadam kebakaran dari Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, dan Kota Mataram dikerahkan untuk menjinakkan api. Hingga proses pemadaman dinyatakan selesai, warga bersama petugas masih terus melakukan penanganan di lokasi guna memastikan tidak ada titik api yang kembali membesar dan mengancam bangunan lain yang masih tersisa.