MATARAM — Deru mesin perahu nelayan bercampur dengan suara ombak Pantai Bintaro, Ampenan, saat prosesi pengibaran bendera Merah Putih dilakukan di tengah Laut Lombok. Komunitas Sekolah Pesisir Juang memilih cara berbeda untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, tidak hanya dengan upacara seremonial, tetapi juga tradisi menghanyutkan bunga ke tengah samudra.
Kegiatan yang dikemas dalam agenda tahunan Larung Laut ini bukan sekadar ritual tabur bunga. Bagi komunitas yang konsisten menggelar acara ini, prosesi tersebut dimaknai sebagai simbol kuat untuk membuang sifat-sifat buruk manusia, seperti keserakahan, ego kelompok, dan keangkuhan yang kerap merusak hubungan sosial maupun ekosistem pesisir.
"Laut adalah cermin besar. Di hadapan luasnya samudra, manusia sebenarnya bukan apa-apa," ujar inisiator Sekolah Pesisir Juang, Jauhari Tantowi, di sela-sela prosesi tabur bunga.
Pernyataan itu menjadi benang merah refleksi yang coba ditanamkan kepada masyarakat. Dengan melarung simbol-simbol negatif tersebut ke tengah laut, mereka berharap ruang di dalam hati setiap individu dapat kembali diisi oleh nilai-nilai kepedulian, gotong royong, dan kerendahan hati.
Di atas perahu-perahu nelayan yang terombang-ambing ombak, prosesi upacara berlangsung khidmat. Momen ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan mendalam kepada para nelayan yang hilang atau gugur saat mengarungi lautan demi menghidupi keluarga.
Para nelayan dinilai sebagai sosok tangguh yang berjuang di garis terdepan, tidak hanya untuk kebutuhan ekonomi rumah tangga, tetapi juga menjaga kedaulatan maritim Indonesia. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan juga dirawat oleh mereka yang bekerja keras di tengah laut.
Lebih dari sekadar mengenang jasa, Larung Laut menjadi medium kritik sosial yang tajam. Sekolah Pesisir Juang mengajak masyarakat menjadikan momentum kemerdekaan sebagai waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri secara jujur.
Pesan yang disampaikan sederhana namun dalam: kemerdekaan sejati tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan fisik. Lebih dari itu, kemerdekaan menuntut keberanian untuk mengendalikan ego, memperbaiki kualitas diri, serta membangun semangat kebersamaan demi masa depan Indonesia yang lebih matang dan solid.
Aksi teatrikal yang ditampilkan dalam prosesi tersebut menambah kekhidmatan suasana, menggambarkan perjalanan hidup nelayan yang penuh dinamika antara harapan dan ancaman ombak. Tradisi tahunan ini diharapkan terus menjadi pengingat bagi warga pesisir Lombok akan pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai kebangsaan.