30 Kader Kesehatan di Desa Meninting Dilatih Deteksi Dini Kanker Payudara Lewat Aplikasi Digital, Skor Pengetahuan Naik Signifikan

Penulis: Khoirul Anwar  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:22:11 WIB
kader kesehatan di Desa Meninting mengikuti pelatihan deteksi dini kanker payudara melalui aplikasi digital yang digelar tim dosen Poltekkes Kemenkes Mataram.

LOMBOK BARAT — Upaya menekan angka kematian akibat kanker payudara di Lombok Barat kini menyasar kader kesehatan sebagai garda terdepan. Tim dosen Poltekkes Kemenkes Mataram menggelar pelatihan digitalisasi self assessment kanker payudara bagi 30 kader di Desa Meninting, Kecamatan Batulayar, dengan fokus pada peningkatan keterampilan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).

Program yang dipimpin Erien Luthfia bersama anggota Desi Rofita dan Lina Sundayani ini lahir dari keprihatinan atas rendahnya cakupan deteksi dini kanker payudara di kabupaten tersebut. Padahal, penyakit ini masih menjadi salah satu penyebab utama kematian perempuan akibat kanker di Indonesia.

Skor Pengetahuan Kader Meningkat Hampir 20 Poin

Evaluasi program menunjukkan hasil yang menggembirakan. Rata-rata skor pengetahuan kader melonjak dari 53,13 sebelum pelatihan menjadi 73,17 setelahnya, atau naik sekitar 20 poin. Peningkatan juga terjadi pada keterampilan praktik SADARI, dari rata-rata 39,33 menjadi 68,23.

Seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan tingkat partisipasi mencapai 100 persen. Materi yang diberikan mencakup pengenalan kanker payudara, teknik SADARI, hingga penggunaan media digital self assessment sebagai alat bantu edukasi.

Kader Kesehatan Bertransformasi Menjadi Edukator Digital

Erien Luthfia menegaskan bahwa pelatihan ini tidak sekadar menambah wawasan, tetapi mengubah cara kerja kader dalam menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat.

"Kader kesehatan merupakan ujung tombak pelayanan promotif dan preventif di masyarakat. Melalui pelatihan ini kami ingin menghadirkan kader yang tidak hanya memahami deteksi dini kanker payudara, tetapi juga mampu menyampaikan edukasi secara lebih menarik, mudah diakses, dan sesuai dengan perkembangan teknologi digital," ujarnya.

Sejumlah media edukasi digital turut diperkenalkan dalam program ini, mulai dari video edukasi, leaflet digital, hingga media self assessment. Inovasi tersebut telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sehingga siap dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Model Pemberdayaan yang Bisa Direplikasi ke Desa Lain

Keberhasilan program ini membuka peluang replikasi di desa-desa lain di Nusa Tenggara Barat. Kader kesehatan kini tidak lagi sekadar pelaksana kegiatan posyandu, melainkan fasilitator edukasi berbasis teknologi yang mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat ini diharapkan mampu meningkatkan cakupan deteksi dini kanker payudara secara lebih luas. Transformasi digital yang dimulai dari tingkat desa menjadi langkah strategis menekan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tersebut.

Reporter: Khoirul Anwar
Sumber: radarlombok.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top