NUSA TENGGARA BARAT — Rusia dan Korea Utara menyatakan sedang berjuang membangun "tatanan dunia yang baru dan adil berdasarkan kesetaraan sejati dan kepentingan nasional." Pernyataan ini termuat dalam pesan Menlu Rusia Sergey Lavrov kepada Menlu Korea Utara Choe Son Hui, yang disiarkan kantor berita KCNA pada Selasa (18/8).
Lavrov secara khusus menyoroti keterlibatan personel militer Korea Utara dalam operasi militer di wilayah Kursk. Ia menyebut partisipasi tersebut sebagai bukti nyata tradisi persahabatan militan yang telah terjalin sejak generasi pendahulu.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengirimkan sekitar 14.000 tentara ke Rusia pada akhir tahun 2024. Mereka dikerahkan untuk membantu Moskow memukul mundur serangan besar-besaran Ukraina di wilayah Kursk.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kemenangan di wilayah tersebut pada Mei 2025 dan secara terbuka berterima kasih kepada Pyongyang atas bantuannya. Lavrov menyebut pasukan Korea Utara berpartisipasi dalam operasi untuk "mengusir kelompok Nazi Ukraina dan tentara bayaran asing" dari Kursk.
Label "Nazi" kerap digunakan Rusia untuk menyebut Pemerintahan Presiden Volodymyr Zelensky sejak invasi skala penuh Februari 2022. Tuduhan itu dibantah habis-habisan oleh Zelensky yang berlatar belakang Yahudi, serta sekutu-sekutu Barat yang menilai narasi tersebut tidak masuk akal.
Selain mengirimkan pasukan, Pyongyang juga telah memasok jutaan peluru artileri dan mortir, rudal balistik, artileri jarak jauh, serta sistem peluncur roket ganda kepada Rusia. Penilaian ini berdasarkan data dari pihak Ukraina maupun sumber independen.
Korea Selatan dan negara-negara Barat khawatir Pyongyang mendapatkan imbalan berupa bantuan pengembangan senjata dari Moskow. Kecurigaan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa aliansi militer kedua negara akan mengubah keseimbangan keamanan di kawasan Indo-Pasifik.
Awal bulan ini, Presiden Zelensky menyatakan hingga 50.000 tentara Korea Utara akan dikirim ke Rusia dalam pengerahan pasukan baru. Langkah ini dinilai sebagai upaya meningkatkan tekanan militer terhadap Ukraina yang tengah berjuang mempertahankan wilayahnya.
Pesan Lavrov itu mempertegas arah baru hubungan bilateral Rusia-Korea Utara yang melampaui sekadar kerja sama ekonomi. Kedua negara kini tampil sebagai poros yang menantang tatanan global yang dipimpin negara-negara Barat.
Sejak invasi ke Ukraina, Rusia semakin terisolasi secara diplomatis dan bergantung pada negara-negara yang bersedia melawan sanksi Barat. Korea Utara menjadi salah satu sekutu paling vokal yang secara terbuka mendukung operasi militer Moskow di Ukraina.
Pengerahan pasukan Korea Utara ke garis depan menandai eskalasi signifikan dalam konflik Ukraina. Ini menjadi keterlibatan langsung pertama Pyongyang dalam perang besar di Eropa sejak Perang Korea.