NUSA TENGGARA BARAT — Secara keseluruhan, total impor Indonesia pada paruh pertama 2026 mencapai US$137,24 miliar. Angka ini menunjukkan pertumbuhan 18,69% secara cumulative-to-cumulative (ctc) dibandingkan semester I 2025.
Meski nilai impor bahan baku naik signifikan, porsinya terhadap total impor justru sedikit menyusut. Pada semester I 2025, kontribusi golongan barang ini mencapai 71,55%, sementara tahun ini turun tipis menjadi 71,37%.
BPS mencatat pergeseran tipis pada struktur impor Indonesia. Penurunan porsi bahan baku/penolong mengindikasikan adanya perubahan komposisi belanja impor, meskipun sektor industri dalam negeri masih sangat bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri.
Berikut rincian nilai impor bahan baku/penolong Indonesia:
Pertumbuhan impor bahan baku sebesar 18,38% (ctc) menjadi indikator penting bagi pelaku pasar. Lonjakan ini umumnya mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi di sektor manufaktur, terutama untuk memenuhi permintaan domestik maupun ekspor.
Namun, perlu dicermati bahwa peningkatan belanja impor ini juga berpotensi menekan neraca perdagangan. Jika pertumbuhan impor bahan baku tidak diimbangi ekspor produk jadi, defisit transaksi berjalan bisa melebar.
Bagi investor, data ini menjadi sinyal untuk memantau kinerja emiten sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan semakin sensitif terhadap margin perusahaan, mengingat mayoritas transaksi impor dilakukan dalam mata uang asing.
Dengan tren semester I yang tumbuh hampir 19%, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi berlanjut. Pelaku pasar biasanya merespons data impor yang tinggi dengan meningkatkan hedging untuk mengantisipasi pelemahan rupiah lebih dalam.
Data BPS ini juga menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam menyeimbangkan kebijakan hilirisasi dan pengendalian impor. Ketergantungan pada bahan baku impor yang tinggi membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga komoditas global dan gangguan rantai pasok internasional.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada data neraca perdagangan bulanan berikutnya untuk melihat apakah pertumbuhan impor ini diiringi kinerja ekspor yang solid. Jika tidak, defisit dagang bisa menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan domestik.