Masalah ini terungkap dalam sebuah pengalaman langsung yang dibagikan oleh seorang teknisi dan penggemar HTPC. Ia mencoba membangun PC teater rumah yang ideal — perangkat yang menyala langsung menampilkan antarmuka gaming, bisa dikendalikan penuh dengan kontroler, dan menyembunyikan kompleksitas sistem operasi di balik layar. Targetnya adalah meniru pengalaman PlayStation atau Xbox, namun dengan fleksibilitas dan performa hardware PC.
Solusi yang dipilih adalah Bazzite, distribusi Linux yang mengadopsi Steam Gaming Mode dari Valve. Mode ini dirancang untuk membuat PC terasa seperti konsol genggam Steam Deck, lengkap dengan antarmuka big-picture yang siap pakai begitu TV dinyalakan. Sayangnya, saat pengguna memasang kartu Nvidia GeForce RTX 3080 andalannya, pengalaman itu langsung buyar.
Situs resmi Bazzite sebenarnya sudah memperingatkan bahwa dukungan untuk GPU Nvidia masih eksperimental dan belum sempurna. Namun, rasa penasaran dan keyakinan bahwa driver Nvidia di Linux sudah cukup matang membuatnya nekat mencoba. Hasilnya? Berbagai masalah muncul, mulai dari crash acak, artefak grafis, hingga ketidakmampuan sistem untuk masuk ke mode gaming secara mulus. PC yang seharusnya senyap dan instan malah berubah menjadi proyek troubleshooting yang membuat frustrasi.
Kekecewaan itu berakhir begitu kartu Radeon dipasang sebagai pengganti. Tanpa perlu mengutak-atik driver atau konfigurasi tambahan, Bazzite langsung berjalan sempurna. Sistem booting langsung ke antarmuka Steam, kontroler terdeteksi otomatis, dan game berjalan tanpa hambatan berarti. Perbedaan ini, menurut pengguna, bukan soal kecepatan frame rate, melainkan soal keandalan dan kemudahan penggunaan — dua faktor krusial untuk perangkat HTPC yang seharusnya tidak perlu diutak-atik.
Fenomena ini bukanlah hal baru di dunia Linux. Driver open-source AMD (AMDGPU) sudah lama dikenal lebih terintegrasi dan stabil di ekosistem Linux dibandingkan driver proprietary Nvidia (Nouveau atau driver resmi). Untuk kasus penggunaan spesifik seperti HTPC yang mengutamakan pengalaman "set-and-forget", stabilitas driver menjadi jauh lebih penting daripada selisih performa mentah di atas kertas.
Bagi komunitas perakit PC di Indonesia yang mulai melirik Linux sebagai alternatif Windows untuk gaming, temuan ini menjadi pertimbangan penting. Meskipun Nvidia masih unggul di segmen performa gaming kelas atas dan fitur seperti ray tracing, untuk proyek HTPC murni yang mengedepankan pengalaman konsol, AMD Radeon menawarkan nilai lebih yang tidak bisa diabaikan. Pilihan antara Nvidia dan AMD kini tidak lagi semata-mata soal spesifikasi, melainkan soal ekosistem dan tujuan penggunaan.