NUSA TENGGARA BARAT — Redwood Materials memperluas kerja sama daur ulang baterai dengan Rivian, mencakup pengolahan sisa produksi di pabrik Normal, Illinois, dan sejumlah lokasi milik Rivian lainnya. Kesepakatan baru ini bergerak melampaui penyediaan penyimpanan energi 10 MWh yang disepakati April lalu. Langkah tersebut dilakukan menjelang menguatnya volume produksi R2 yang diprediksi menjadi model terlaris Rivian.
Perusahaan daur ulang yang didirikan mantan co-founder Tesla, JB Straubel, itu akan mengumpulkan, memilah, dan mengolah limbah produksi baterai Rivian. Material hasil olahan dikembalikan ke lini manufaktur dengan sisa buangan minimal dan biaya jauh lebih rendah dibanding material virgin.
Skema kerja sama ini juga mencakup pemanfaatan baterai Rivian yang sudah pensiun untuk proyek penyimpanan energi stasioner. Setelah masa pakai di proyek tersebut habis, Redwood menargetkan pemulihan hingga 99 persen material kritis, mencakup nikel, kobalt, tembaga, dan lithium.
Kerja sama keduanya bukan hal baru. Pada April lalu, Rivian menandatangani kontrak penyediaan penyimpanan energi berkapasitas 10 MWh menggunakan paket baterai bekas asal kendaraan listriknya sendiri. Kesepakatan itu menjadi pintu masuk bagi pembicaraan yang lebih luas.
Pabrik Rivian di Normal, Illinois, menempati bekas fasilitas Diamond-Star Motors milik Mitsubishi. Di lokasi inilah Rivian membangun lini produksi R2, model yang diposisikan lebih terjangkau dibanding R1T dan R1S. Volume produksi yang lebih besar otomatis memperbesar potensi limbah baterai yang harus ditangani.
Straubel menegaskan bahwa setiap paket baterai Rivian yang kembali ke Redwood punya dua nilai sekaligus. Selain menjadi sumber material kritis, baterai tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai penyimpanan energi grid domestik.
"Setiap paket baterai Rivian yang kembali ke kami adalah sumber potensial penyimpanan energi grid domestik, di samping material kritis," ujar Straubel dalam pernyataan resminya.
Menurutnya, kemampuan Redwood mengintegrasikan dan menempatkan ulang baterai Rivian dengan teknologi miliknya membuka peluang penyimpanan energi yang cepat, fleksibel, dan lebih hemat biaya. Straubel menyebut permintaan dan biaya energi yang terus naik membuat kerja sama dengan perusahaan seperti Rivian menjadi salah satu cara menjawab tantangan tersebut.
Rivian menjadi merek EV terbaru yang masuk ke dalam kemitraan daur ulang formal dengan Redwood. Sebelumnya, perusahaan yang berbasis di Nevada itu sudah menjalin kerja sama serupa dengan BMW, Ford, Toyota, dan Volvo.
Model bisnis Redwood memang bertumpu pada gagasan memberi baterai EV bekas kehidupan kedua sebagai penyimpanan energi untuk gedung sektor publik dan swasta, lokasi konstruksi, micro-grid, hingga pusat data. Pendekatan ini menekan kebutuhan penambangan material baru sekaligus mengurangi volume limbah baterai yang berakhir di tempat pembuangan.
Bagi konsumen, dampak langsungnya belum terasa di Indonesia karena Rivian belum memasarkan kendaraan di pasar lokal. Namun skema serupa menjadi rujukan bagi produsen EV global dalam membangun rantai pasok baterai tertutup, terutama di tengah tekanan regulasi soal kandungan material daur ulang di sejumlah negara.