MATARAM — Bagi Ahmad Rizal Ramdhani, almarhum Tuan Guru Bagu bukan sekadar ulama yang dihormati masyarakat Nusa Tenggara Barat. Direktur Utama Perum Bulog itu mengaku kehilangan figur yang dianggapnya sebagai orang tua angkat selama bertugas sebagai Komandan Korem 162/Wira Bhakti di NTB.
Kabar wafatnya TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin pada Kamis, 15 Oktober 2026 membawa kembali kenangan panjang antara seorang prajurit dan ulama. Rizal mengaku tidak punya ayah sejak kelas satu SMA, dan peran itu ia temukan pada sosok Tuan Guru Bagu.
"Saya secara pribadi sangat kehilangan beliau. Saya menganggap beliau sebagai orang tua angkat saya," tutur Rizal, dikutip dari Suara NTB.
Rizal pertama kali menginjak NTB dengan pegangan nasihat lama: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Ia lantas berkeliling mengenal tokoh masyarakat, terutama para tuan guru, untuk memahami karakter warga yang akan menjadi bagian dari pengabdiannya.
Dari rangkaian silaturahmi itu, ia bertemu Tuan Guru Bagu di kediaman sang ulama. Sapaan pertama langsung terasa berbeda. Tuan Guru Bagu memanggilnya dengan sebutan seorang ayah kepada anaknya.
"Beliau langsung memanggil saya anak. 'Sudah, Nak Rizal, berbuat yang terbaik di Nusa Tenggara Barat. Mengabdilah untuk rakyat Nusa Tenggara Barat.' Itu pesan beliau ketika saya menjadi Danrem," kenangnya.
Sejak pertemuan itu, setiap kali menghadapi persoalan penting dan mendesak, Rizal menyempatkan diri bersilaturahmi dan berkonsultasi. Ia menilai Tuan Guru Bagu bijaksana, tajam dalam memberi pertimbangan, dan memahami betul kehidupan masyarakat NTB.
Kenangan paling membekas datang ketika gempa bumi mengguncang Lombok pada 2018. Sebagai Danrem, Rizal terlibat langsung dalam penanganan bencana dan membentuk berbagai satuan tugas, mulai dari pembangunan jembatan, jalan, hingga rumah tahan gempa.
Di tengah besarnya pekerjaan itu, Rizal merasa masih ada yang kurang. Ia mendatangi Tuan Guru Bagu untuk meminta arahan, datang dengan perasaan berat hingga tak kuasa menahan tangis.
"Saat penanganan gempa 2018, saya menghadap Tuan Guru Bagu dan menangis. Saya sampaikan, 'apa lagi yang harus saya lakukan? Semuanya sudah saya bentuk dan saya bantu'," cerita Rizal.
Jawaban sang ulama di luar dugaan. Tuan Guru Bagu menyebut ada satu hal yang belum masuk daftar satuan tugas dan tidak boleh dilupakan, yakni Satgas Doa.
Tuan Guru Bagu lantas memberi arahan soal apa yang harus dipanjatkan masyarakat: bertobat dan memohon ampun kepada Allah SWT, berdoa agar bencana dan gempa susulan dihentikan, serta memohon agar Lombok segera bangkit dan kembali normal.
Satgas Doa pun dibentuk. Doa bersama digelar dengan menghadirkan Ust Abdussomat dan Syeikh Ali Jaber ke Lombok. Di sejumlah wilayah, warga diajak berzikir dan berdoa rutin, termasuk setiap malam Jumat, dengan seluruh Kodim digerakkan untuk menjalankannya.
Bagi Rizal, pesan itu mengajarkan bahwa di tengah kerja teknis dan upaya kemanusiaan, masyarakat juga membutuhkan penguatan batin. Pemulihan Lombok, katanya, harus dilihat utuh: menyelamatkan manusia, membangun kembali tempat tinggal, dan menguatkan harapan.
Rizal menyebut lebih dari 276 ribu rumah tahan gempa berhasil dibangun dalam kurun sekitar 2,5 tahun. Menurutnya, penanganan gempa di Lombok termasuk cukup cepat dan tidak bisa dilakukan di daerah lain seperti Palu.
"Dan terbukti, penanganan gempa di Lombok termasuk cukup cepat, Alhamdulillah," katanya.
Kedekatan Rizal dengan Tuan Guru Bagu kembali diuji ketika pandemi Covid-19 melanda. Upaya vaksinasi saat itu menghadapi tantangan, termasuk keraguan sebagian masyarakat terhadap keamanan dan kehalalan vaksin.
Rizal menyadari pendekatan aparat saja tidak cukup. Peran ulama dibutuhkan untuk meyakinkan warga, dan Tuan Guru Bagu kembali menjadi rujukan dalam menghadapi persoalan itu.