NUSA TENGGARA BARAT — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua agar tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi karena berisiko infeksi bakteri Salmonella. Infeksi ini bisa memicu diare hingga dehidrasi berat pada si kecil. Simak panduan lengkap MPASI dan cara aman menyajikan telur untuk bayi di bawah dua tahun.
Pengurus Pusat IDAI menegaskan bahwa telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak. Alasan utamanya adalah risiko keamanan pangan yang bisa berujung pada infeksi serius.
Peringatan ini disampaikan lewat keterangan resmi yang dikutip dari Media Indonesia. Banyak ibu mungkin belum menyadari bahwa sajian telur setengah matang yang sering dianggap sehat justru menyimpan bahaya bagi pencernaan bayi.
Telur mentah berpotensi terkontaminasi bakteri Salmonella. Bakteri ini bisa masuk ke tubuh bayi dan menimbulkan infeksi yang gejalanya tidak ringan.
Bayi dan anak kecil memiliki sistem imun yang belum sempurna. Infeksi Salmonella pada kelompok usia ini berisiko lebih berat dan dapat memicu komplikasi serius jika tidak ditangani cepat.
IDAI menyebut beberapa gejala yang muncul saat bayi terinfeksi Salmonella. Orang tua perlu peka jika si kecil menunjukkan tanda-tanda berikut:
Dehidrasi menjadi kondisi paling berbahaya pada bayi. Tubuh bayi lebih cepat kehilangan cairan dibanding orang dewasa, sehingga diare dan muntah bisa berdampak fatal bila dibiarkan.
Telur sebenarnya boleh diperkenalkan sebagai bahan MPASI. Syaratnya, bayi sudah siap menerima makanan dan teksturnya disesuaikan dengan kemampuan makan si kecil.
IDAI juga meluruskan mitos soal alergi. Pemberian telur tidak perlu ditunda sampai anak berusia satu tahun hanya untuk mencegah alergi, kecuali ada pertimbangan medis khusus dari dokter.
MPASI umumnya mulai diberikan saat bayi berusia enam bulan. Rekomendasi ini sejalan dengan anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
"Pada usia tersebut, kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai melampaui yang dapat dipenuhi ASI saja. Pemberian ASI tetap dilanjutkan bersama MPASI hingga anak berusia dua tahun atau lebih," ujar IDAI.
Dalam kondisi tertentu, MPASI bisa dipertimbangkan sejak usia empat bulan atau 17 minggu. Namun, keputusan ini harus berdasarkan penilaian dokter dan kesiapan perkembangan bayi. Pemberian MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan.
Kesiapan makan bayi tidak bisa ditebak sembarangan. IDAI menyebut beberapa tanda yang perlu diperhatikan orang tua:
Penilaian kesiapan ini harus dilakukan menyeluruh. Tujuannya untuk mengurangi risiko tersedak dan gangguan makan di kemudian hari.
IDAI tetap merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Bayi yang belum mendapat MPASI tidak memerlukan makanan atau minuman tambahan, termasuk air putih, jus, dan kaldu.
Jika ASI tidak memungkinkan diberikan atau ada indikasi medis, susu formula dapat digunakan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Kebersihan pengolahan makanan menjadi kunci utama. IDAI mengimbau orang tua mencegah kontaminasi silang dan tidak menggunakan telur yang retak atau rusak.
Untuk hidangan berbahan telur yang tidak dimasak sempurna, gunakan telur yang telah dipasteurisasi sesuai standar keamanan pangan. Telur harus dimasak hingga benar-benar matang sebelum disajikan ke bayi.
Orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter jika ragu mengenai waktu pemberian MPASI, kesiapan makan bayi, atau pilihan makanan yang aman. Jangan ragu bertanya, terutama jika bayi menunjukkan gejala infeksi seperti diare berkepanjangan atau demam tinggi.
Memasak telur hingga matang sempurna dan menjaga kebersihan dapur adalah langkah sederhana yang berdampak besar. Dengan begitu, si kecil tetap mendapat asupan bergizi tanpa harus berisiko terkena infeksi.