NUSA TENGGARA BARAT — Rupiah kembali tertekan pada perdagangan Kamis (1/10), ditutup di level Rp 17.966 per dolar Amerika Serikat menurut data Bloomberg. Pelemahan 0,4% dibanding penutupan sebelumnya itu sejalan dengan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang turun 0,34% ke Rp 17.937 per dolar AS.
Dua acuan kurs yang berbeda itu sama-sama mengonfirmasi arah yang sama: tekanan jual terhadap mata uang Garuda belum mereda. Jisdor biasanya dipakai sebagai referensi transaksi perbankan dan pelaporan valas, sedangkan level Bloomberg mencerminkan harga di pasar spot antarbank.
Pelemahan rupiah kali ini terjadi di dua acuan pasar sekaligus, menandakan tekanan tidak hanya bersifat teknikal di satu segmen perdagangan. Level Rp 17.966 per dolar AS dari Bloomberg dan Rp 17.937 dari Jisdor sama-sama berada di bawah posisi penutupan sebelumnya.
Selisih tipis antara kedua angka itu lazim terjadi karena perbedaan metode perhitungan dan jam pengambilan data. Namun arah pergerakannya yang seragam memperkuat sinyal bahwa permintaan dolar AS masih mendominasi pasar valas domestik.
Kurs Jisdor turun 0,34% dari sehari sebelumnya, sementara data Bloomberg mencatat pelemahan 0,4%. Perbedaan tipis ini menunjukkan tekanan terjadi merata di sepanjang sesi perdagangan, bukan hanya pada satu titik waktu tertentu.
Bagi pelaku usaha yang memakai Jisdor sebagai basis transaksi, penurunan ini langsung berdampak pada perhitungan biaya impor dan kewajiban valas. Sementara investor yang memantau pasar spot lewat Bloomberg melihat pelemahan serupa dari sisi harga antarbank.
Pelemahan rupiah ke level Rp 17.966 per dolar AS membuat biaya impor bahan baku dan barang modal berdenominasi dolar AS menjadi lebih mahal. Importir yang belum melakukan lindung nilai (hedging) akan menanggung selisih kurs yang lebih besar dibanding posisi penutupan sebelumnya.
Di sisi lain, eksportir yang menerima pembayaran dalam dolar AS berpotensi mencatat keuntungan kurs saat mengonversi pendapatan ke rupiah. Namun keuntungan itu bergantung pada apakah pelemahan berlanjut atau justru berbalik arah dalam beberapa sesi ke depan.
Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan masih akan dipengaruhi oleh dinamika permintaan dolar AS di pasar domestik serta sentimen global yang memengaruhi arus modal masuk dan keluar. Pelaku pasar valas biasanya mencermati level penutupan harian dan kurs Jisdor sebagai acuan posisi berikutnya.