LOMBOK UTARA — Kebakaran yang bermula di Bukit Setampol merembet ke Puncak Sangkareang serta kawasan TNGR Resort Torean dan Senaru. Tim pemadam ditempatkan mulai dari jalur pendakian Torean hingga Pos 3, Pelawangan Senaru, dan Puncak Sangkareang.
Kepala Subbagian Tata Usaha TNGR Astekita Ardiaristo menyatakan angka luasan yang beredar belum final. Verifikasi batas areal terdampak baru bisa dilakukan setelah kondisi di lapangan memungkinkan.
"Angka tersebut masih merupakan estimasi sementara dan akan terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan lapangan dan dokumentasi udara menggunakan drone. Serta verifikasi batas areal terdampak setelah kondisi di lapangan memungkinkan," kata Astekita, Sabtu 26 September 2026, malam.
Angin kencang membuat api bergerak dan meluas dengan cepat. Kondisi itu diperparah vegetasi savana pegunungan, semak, rumput, dan material organik yang sangat kering sehingga mudah terbakar.
Medan pegunungan yang jauh dan terjal menambah beban tim di lapangan. Mobilisasi personel, peralatan, dan logistik menuntut waktu serta tenaga besar.
"Selain itu, lokasi kebakaran berada pada medan pegunungan yang jauh, terjal, dan sulit dijangkau. Sehingga mobilisasi personel, peralatan, dan logistik membutuhkan waktu serta tenaga yang cukup besar," ujar Astekita.
Sebanyak 80 personel gabungan dikerahkan ke titik-titik yang masih menyala. Penempatan mereka mengikuti jalur pendakian Torean hingga Pos 3 dan Pelawangan Senaru, termasuk Puncak Sangkareang.
Pemantauan udara dengan drone dipakai untuk memetakan sebaran api. Data itu menjadi dasar pembaruan angka luasan terdampak sebelum verifikasi resmi dilakukan.
Kebakaran pertama kali terdeteksi di Bukit Setampol pada Selasa 22 September 2026. Dalam beberapa hari, api merembet ke Puncak Sangkareang dan dua resort di kawasan TNGR.
Hingga Sabtu 26 September 2026 malam, tim masih berjibaku di lapangan. Pembaruan luasan area terdampak menunggu hasil pemantauan dan verifikasi batas areal.