Gempa Kolombia M 7,4 Tewaskan 132 Orang, Pakar Ingatkan Ancaman Gempa Intraslab di Indonesia

Penulis: Luthfi Hakim  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:09:31 WIB
Reruntuhan bangunan terlihat di Provinsi Chocó, Kolombia, setelah gempa bumi berkekuatan M 7,4 menggunakan skala magnitudo mengguncang wilayah tersebut.

NUSA TENGGARA BARAT — Guncangan dahsyat yang meratakan sejumlah bangunan di Provinsi Chocó, Kolombia, itu berpusat di San José del Palmar. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan peristiwa tersebut bukan berasal dari zona megathrust, melainkan gempa intraslab yang terjadi di dalam tubuh lempeng yang menunjam.

"Gempa Kolombia Mw 7,4 memberikan pemahaman dan gambaran komprehensif mengenai mekanisme seismotektonik lempeng penunjam serta dampaknya terhadap kegagalan struktur di kawasan perkotaan," kata Daryono, Senin.

Pusat Gempa di Kedalaman 110 Kilometer

Secara parametrik, episenter gempa berada pada koordinat 4,844° Lintang Utara dan 76,242° Bujur Barat, atau sekitar 5 kilometer di selatan San José del Palmar. Hiposenter gempa berada di kedalaman sekitar 110,3 kilometer, yang menempatkannya dalam kategori gempa menengah (intermediate-depth earthquake).

Peristiwa ini merupakan bagian dari dinamika deformasi sistem subduksi aktif di kawasan Kolombia-Ekuador-Peru-Chili. Lempeng Samudra Nazca bergerak menunjam ke bawah Lempeng Benua Amerika Selatan, namun pelepasan energi kali ini tidak terjadi pada bidang kontak langsung antarlempeng.

Sumber gempa justru berada di dalam tubuh lempeng yang sedang menunjam. Pada kedalaman tersebut, Lempeng Nazca yang telah masuk ke bawah Amerika Selatan masih relatif kaku, padat, dan dingin dibandingkan material mantel di sekitarnya.

Mengapa Guncangan Gempa Intraslab Lebih Merusak

Lempeng yang kaku itu mengalami tarikan gravitasi ke bawah (slab pull) sekaligus tekukan saat bergerak semakin dalam ke mantel Bumi. Kondisi ini memicu akumulasi tegangan dan regangan, hingga akhirnya batuan patah secara tiba-tiba dan melepaskan energi besar.

Mekanisme sumber gempa menunjukkan karakter sesar normal dengan komponen geser atau oblique-normal faulting. Pola tersebut konsisten dengan rejim tegangan ekstensional yang umum dijumpai pada gempa intraslab.

Karakteristik utama gempa intraslab adalah efisiensi rambat gelombang seismiknya. Gelombang yang dilepaskan di dalam slab litosfer yang dingin dan padat mengalami atenuasi rendah, sehingga energi seismik dapat menjangkau wilayah luas meski sumbernya berada di kedalaman lebih dari 100 kilometer.

Dampaknya, area guncangan bisa meluas hingga ratusan kilometer dari episenter. Berbeda dengan gempa dangkal di dasar laut, gempa intraslab seperti ini tidak memicu tsunami, tetapi ancaman utamanya adalah guncangan tanah yang memukul struktur bangunan.

Ancaman Soft-Story Failure dan Keruntuhan Bangunan

Guncangan kuat yang tiba di permukaan menghasilkan percepatan tanah atau Peak Ground Acceleration (PGA) yang memberikan gaya inersia besar terhadap bangunan. Pada bangunan bertingkat yang tidak dirancang tahan gempa, gaya lateral dapat menyebabkan simpangan antarlantai melampaui kapasitas struktur.

Salah satu kegagalan yang umum terjadi adalah soft-story failure, ketika satu lantai memiliki kekakuan jauh lebih rendah dibandingkan lantai lainnya. Lantai tersebut runtuh lebih dulu dan memicu kerusakan berantai pada bagian bangunan lain. Dalam kondisi parah, keruntuhan progresif hingga pancake collapse bisa terjadi, di mana lantai-lantai bangunan runtuh bertingkat dan material beton berjatuhan menimpa penghuni.

Bagi Indonesia yang juga memiliki zona subduksi aktif, pelajaran dari Kolombia menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap standar bangunan tahan gempa. Wilayah dengan karakteristik lempeng menunjam serupa menghadapi risiko guncangan yang tak bisa dianggap remeh.

Reporter: Luthfi Hakim
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top