NUSA TENGGARA BARAT — Fenomena smartwatch-induced anxiety mulai mendapat perhatian serius dari kalangan medis. Dr. Lindsey Rosman, asisten profesor di Divisi Kardiologi University of North Carolina School of Medicine, menyebut akses 24/7 terhadap data kesehatan dari wearable belum jelas apakah benar-benar membantu atau justru merugikan pengguna.
Dalam sebuah laporan kasus yang diterbitkan timnya, seorang pasien tanpa riwayat kejiwaan sebelumnya melakukan lebih dari 900 pemeriksaan EKG (elektrokardiogram) melalui smartwatch dalam satu tahun. Sebagian besar hasilnya normal, namun notifikasi yang tidak meyakinkan memicu kunjungan berulang ke IGD, konflik rumah tangga, hingga kebutuhan terapi.
“Pasien tersebut tidak memiliki riwayat psikiatri sebelum menggunakan smartwatch,” ujar Rosman.
Dr. Karen Cassiday, penulis buku Freedom from Health Anxiety dan direktur Anxiety Treatment Center of Greater Chicago, menjelaskan bahwa notifikasi berlebihan dari wearable bisa terasa mengganggu bahkan bagi pengguna yang tidak memiliki gangguan kecemasan. “Mereka menyadari tidak ingin terus-menerus sadar terhadap setiap detak fungsi tubuh mereka,” katanya.
Kondisi ini diperparah oleh kemampuan pengguna untuk mencari gejala secara daring atau bertanya pada asisten AI di aplikasi wearable. Perilaku kompulsif ini, menurut Cassiday, bisa menjadi bentuk negative reinforcement yang justru memperkuat kecemasan.
1. Matikan atau kurangi notifikasi yang memicu cemas
Rosman menyarankan pengguna dengan kondisi medis yang sudah tertangani, seperti AFib, untuk menonaktifkan notifikasi irama jantung tidak teratur. Obat-obatan tertentu juga bisa memengaruhi akurasi sensor wearable dan memicu alarm palsu.
Oura Ring, misalnya, menyediakan fitur Personalized Activity Goals yang memungkinkan pengguna menyembunyikan data kalori atau mengganti target aktivitas harian. “Kami memberi opsi untuk melihat langkah alih-alih kalori, atau menyembunyikan kalori sepenuhnya,” ujar Shyamal Patel, SVP of Science di Oura.
2. Kurangi frekuensi pengecekan data kesehatan
Studi Rosman tahun 2024 mengungkap bahwa separuh partisipan dengan AFib memeriksa detak jantung setiap hari karena kebiasaan, bukan gejala. Cassiday merekomendasikan untuk menghentikan kebiasaan mengecek wearable secara kompulsif.
“Sering kali saya bekerja dengan pasien cemas untuk mengurangi atau menghilangkan kebutuhan mengecek wearable dan bertanya pada ChatGPT atau ‘dokter digital’ lainnya,” ujarnya.
Jika tetap ingin memantau, atur jadwal pengecekan mingguan untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas dan menghindari hiperfokus pada satu data yang tampak aneh. Hindari mengecek data kesehatan tepat setelah bangun tidur atau sebelum tidur.
Bagi pengguna yang merasa layar di pergelangan tangan memicu godaan untuk terus mengecek, Cassiday menyarankan beralih ke perangkat tanpa layar seperti smart ring atau fitness tracker Whoop 5.0. Perangkat ini hanya menampilkan data melalui aplikasi, sehingga pengguna bisa memilih kapan dan seberapa sering ingin berinteraksi.
“Kamu yang memutuskan seberapa banyak atau sedikit berinteraksi dengan aplikasi. Ini memberi kendali bagi mereka yang cemas terhadap kesehatannya,” pungkas Cassiday.