MATARAM — Sebanyak 4.245 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, kini bergantung pada pasokan air bersih dari mobil tangki setelah sumber air domestik mereka menyusut drastis. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi kondisi ini dipicu oleh fenomena hari tanpa hujan yang berlangsung selama satu bulan terakhir.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyatakan bahwa fenomena tersebut berimplikasi langsung pada kesulitan masyarakat di lima kecamatan untuk memenuhi kebutuhan air bersih harian mereka.
"Fenomena hari tanpa hujan dalam sebulan ini berimplikasi langsung pada kesulitan masyarakat di lima kecamatan untuk memenuhi kebutuhan air bersih harian mereka," kata Abdul Muhari di Jakarta, Kamis.
Data yang dihimpun Pusat Pengendalian Operasi BNPB dari BPBD Lombok Barat per Selasa (23/6) menunjukkan, Kecamatan Sekotong menjadi wilayah dengan jumlah terdampak terbanyak. Sebanyak 1.357 KK di Desa Sekotong Barat mengalami krisis air bersih.
Kecamatan lain yang juga dilanda kekeringan meliputi:
Guna mengantisipasi dampak kedaruratan yang meluas, BPBD Kabupaten Lombok Barat memprioritaskan pengerahan empat unit mobil tangki air. Setiap armada memiliki kapasitas 5.000 liter yang didistribusikan ke kawasan permukiman warga.
Abdul memastikan otoritas penanggulangan bencana daerah terus memperkuat koordinasi lintas sektoral untuk menambah suplai bantuan logistik air.
"BPBD berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Lombok Barat, PDAM Giri Menang Mataram termasuk sektor dunia usaha lainnya untuk memaksimalkan pendistribusian air bersih melalui penambahan armada mobil tangki air maupun pasokan air bersih," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai warga yang terpaksa mengungsi. Namun, pasokan air bersih dari mobil tangki diakui masih terbatas untuk memenuhi kebutuhan ribuan KK yang tersebar di lima kecamatan. Pemerintah daerah setempat masih berupaya mencari sumber air alternatif untuk jangka menengah.