SELONG — Puluhan pemuda Lombok Timur mendapat pelatihan intensif di Aula Yayasan Mahabbatur Rosul, Pancor Kopong Utara, Kamis (18/6). Kegiatan ini bukan sekadar seminar biasa—Dikpora NTB merangkai empat materi berbeda dalam satu hari: pelatihan Event Organizer, sosialisasi bahaya merarik kodek, bahaya narkoba, dan pelatihan kepemimpinan pemuda.
Kabid Pembinaan dan Pengembangan Kepemudaan Dikpora NTB, H. Tarmidzi, mengatakan kolaborasi ini merupakan komitmen bersama memberikan ruang kreatif seluas-luasnya bagi pemuda. “Ini menjadi modal utama untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) NTB dan memutus mata rantai persoalan sosial di daerah kita,” ujarnya.
Sesi paling menyita perhatian adalah sosialisasi bahaya merarik kodek yang dibawakan Duta Puteri Kebaya NTB Tahun 2026, Hurul In. Ia memaparkan bahwa praktik kawin lari di Lombok Timur bukan sekadar tradisi, melainkan aktivitas berisiko tinggi. “Risiko kematian ibu dan bayi, stunting, putus sekolah, dan perceraian akibat ketidaksiapan mental serta finansial,” tegasnya.
Di sesi terpisah, narasumber dari Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Lombok Timur, Mustafa, membeberkan jenis-jenis narkoba yang beredar di masyarakat hingga dampak hukumnya. Ia mengajak peserta aktif melaporkan indikasi peredaran narkoba di lingkungan masing-masing.
Materi Event Organizer disampaikan Bimo Kaspuri. Pelatihan ini dirancang agar pemuda memiliki keterampilan praktis untuk berkarya dan menciptakan peluang kerja secara mandiri. “Saya berharap seluruh materi dapat diserap dengan baik, dipahami, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” harap H. Tarmidzi yang juga mengisi materi kepemimpinan.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Kepeloporan Pemuda Dian Ardiawan, QH S.Pd., juara 2 Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi NTB Bidang Pendidikan tahun 2025. Sekretaris Desa setempat yang membuka acara mengapresiasi kolaborasi ini dan meminta pemuda menjadi kebanggaan desa, bukan beban keluarga.
Menurut H. Tarmidzi, Lombok Timur menjadi benteng pertahanan yang krusial. “Ketika pemuda disibukkan dengan hal positif maka energi mereka tersalurkan untuk hal-hal yang produktif,” ucapnya. Ia menekankan bahwa pencegahan perkawinan anak dan perang melawan narkoba adalah ancaman serius yang berdampak pada kesehatan, sanitasi, kesenjangan gender, dan sosial budaya.
Dengan menggabungkan pelatihan kewirausahaan dan sosialisasi bahaya sosial, Dikpora NTB berharap lahir wirausaha muda sekaligus agen perubahan yang mampu menekan angka perkawinan anak dan penyalahgunaan narkoba di Lombok Timur.