Harga Bawang Putih dan Bawang Merah di Pasar Tradisional Mataram Naik Signifikan, Tembus Rp50.000-Rp60.000 per Kilogram

Penulis: Khoirul Anwar  •  Selasa, 09 Juni 2026 | 13:31:01 WIB
Harga bawang putih di Pasar Kebon Roek, Mataram, naik menjadi Rp50.000 per kilogram.

MATARAM — Harga bawang putih di Pasar Kebon Roek, Ampenan, kini mencapai Rp50.000 per kilogram dari harga normal Rp40.000 per kilogram. Sementara itu, harga bawang merah ikut terdongkrak menjadi Rp60.000 per kilogram, naik dari posisi sebelumnya yang berkisar Rp48.000 hingga Rp50.000 per kilogram.

Pelemahan Rupiah Jadi Biang Kerok

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Selasa, 9 Juni 2026, berada di kisaran Rp18.140 hingga Rp18.170 per dolar AS. Kondisi ini langsung berdampak pada komoditas impor seperti bawang putih yang sebagian besar kebutuhan nasionalnya masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Biaya impor yang membengkak membuat distributor menaikkan harga jual ke pedagang. Pedagang pun terpaksa mengikuti kenaikan tersebut di tingkat eceran.

Pedagang dan Konsumen Sama-Sama Tertekan

Salah seorang pedagang Pasar Kebon Roek, Nurmansyah, mengungkapkan bahwa kenaikan harga sudah dirasakan sejak sepekan terakhir. “Modal kami juga ikut naik dari distributor, jadi harga jual ke pembeli terpaksa naik juga,” ujarnya kepada NTBSatu, Selasa (9/6/2026).

Menurut Nurmansyah, kebutuhan bawang putih di Kota Mataram masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah dan impor. Ketika rupiah melemah, importir harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendatangkan barang dari negara asal. Efek berantai itu kemudian dirasakan hingga ke tingkat pedagang eceran.

Selain faktor impor, kenaikan harga bawang merah juga dipicu oleh meningkatnya biaya produksi dan distribusi. Harga pupuk nonsubsidi, pestisida, dan obat-obatan tanaman ikut naik karena terpengaruh pergerakan kurs. Biaya transportasi dari sentra produksi ke daerah pemasaran juga meningkat seiring tingginya biaya operasional.

Daya Beli Masyarakat Mulai Tergerus

Kenaikan harga bawang mulai berdampak pada daya beli warga. Nurmansyah menuturkan, banyak konsumen yang kini mengurangi jumlah pembelian. “Pembeli sekarang lebih banyak yang ngirit. Biasanya beli satu kilo, sekarang ada yang setengah kilo atau seperempat saja,” katanya.

Ia menambahkan, kondisi ini membuat pedagang berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka harus mengikuti kenaikan harga dari distributor. Di sisi lain, penurunan daya beli masyarakat membuat omzet penjualan ikut terdampak. “Mudah-mudahan harga cepat turun supaya jualan kembali ramai,” tutup Nurmansyah.

Reporter: Khoirul Anwar
Sumber: ntbsatu.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top