Ketua Kwarcab Dompu Ingatkan Pembina Pramuka Jangan Eksploitasi Anak, Fokus pada Pembentukan Karakter

Penulis: Jefri Siahaan  •  Senin, 08 Juni 2026 | 15:19:02 WIB
Ketua Kwarcab Dompu mengingatkan pembina pramuka agar tidak mengeksploitasi anak dan fokus pada pembentukan karakter.

DOMPU — Sebanyak 50 orang pembina pramuka dari seluruh Kabupaten Dompu mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD) dan Kursus Mahir Lanjutan (KML) yang digelar sejak 1 Juni 2026. Kursus yang berlangsung selama sepekan di Bendungan Mila ini bertujuan membekali para pembina dengan manajemen risiko dan pemahaman tentang batasan dalam membina anak.

Larangan Eksploitasi dan Kekerasan Fisik

Yani Hartono menegaskan bahwa kegiatan pramuka, yang identik dengan alam terbuka, tidak boleh menjadi celah bagi tindakan yang merugikan anak. Ia menyoroti praktik pembinaan lama yang kerap menggunakan kekerasan fisik.

“Tidak zamannya kita harus marah–marah, pura–pura. Adiknya dipukul, guling–guling. Tidak membentuk karakter itu. Lebih baik isi otaknya dengan jiwa kepatriotisme yang logis dari pada suruh main fisik terus, otaknya ndak jalan,” ujarnya.

Statuta Kepanduan Dunia Jadi Acuan

Ketua Kwarcab Dompu menekankan bahwa larangan eksploitasi dan pelecehan seksual sudah diatur dalam statuta organisasi kepanduan dunia. Pembina wajib memahami aturan ini, terutama saat menangani satuan pramuka putra dan putri yang terpisah.

“Kegiatan pembinaan harus disesuaikan dengan kemampuan anak binaan. Apalagi satuan terpisah, laki dan perempuan. Tidak boleh ada kegiatan yang mengakibatkan terjadinya pelecehan seksual, bullying atau eksploitasi. Sebagai pusat kepanduan dunia, sudah mengatur statuta ini untuk pramuka,” ungkap Yani Hartono.

Sertifikat Elektronik Terdaftar di Pusdiklat Nasional

Para peserta yang menyelesaikan KMD dan KML mendapatkan sertifikat kemampuan dasar dan lanjutan. Sertifikat ini berbentuk elektronik dan teregistrasi di Pusdiklat Nasional, sehingga diakui di mana pun pembina bertugas.

Pembinaan pramuka saat ini, menurut Yani, harus berorientasi membentuk karakter anak yang cinta tanah air, menolong sesama, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain karakter, anak binaan juga dituntut memiliki kemandirian dan kemampuan fisik yang sehat, tanpa paksaan berlebihan.

Reporter: Jefri Siahaan
Sumber: suarantb.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top