MATARAM — Angka itu membuat miris. Produksi sampah harian Kota Mataram mencapai 250 ton, namun TPA Regional Kebon Kongok hanya mampu menampung sekitar 40 persen dari total volume tersebut. Akibatnya, sampah menumpuk di tempat penampungan sementara (TPS) di berbagai titik perkotaan.
Dr. Najamuddin Amy, penggagas ruang informasi publik di CFD Udayana Mataram, menyebut kondisi ini diperparah oleh perilaku pengunjung car free day (CFD) yang membuang sampah sembarangan. Menurutnya, kawasan CFD yang seharusnya menjadi ruang terbuka hijau dan pusat oksigen kota, justru berubah menjadi sumber masalah baru.
Najamuddin mencontohkan pengalamannya saat mengunjungi Monas di Jakarta. Ia mengaku kagum dengan kebersihan kawasan tersebut berkat kerja keras pasukan kuning — sebutan untuk petugas kebersihan. Namun, ia langsung membandingkannya dengan kondisi di kampung halaman.
“Setiap CFD di Mataram, UMKM bergerak, ruang publik hidup. Tapi setelah usai? Kasihan pasukan kuningnya. Mereka kewalahan membersihkan sampah-sampah yang seharusnya dibawa pulang,” ujar Najamuddin dalam tulisannya yang dikutip NTBSatu, baru-baru ini.
Ia menyayangkan masih banyak pengunjung yang merokok sembarangan di tengah kerumunan anak-anak dan ibu hamil. Limbah makanan, tusukan sate, plastik minuman, hingga puntung rokok berserakan setelah acara usai. “Saya jadi malas merekomendasikan CFD ke anak dan keluarga sendiri,” tambahnya.
Najamuddin mengingatkan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar urusan buang dan angkut. Saat menjabat sebagai Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov NTB pada 2019, ia sengaja membawa rombongan wartawan ke TPST Bantar Gebang, Jakarta. Di sana, sampah diolah menjadi biogas dan energi listrik. PLTSa Merah Putih di kawasan itu mampu mengolah 100 ton sampah per hari menjadi 700 kilowatt listrik.
Ia juga menyinggung pengalamannya di Jepang pada 2013. “Saya harus mengantongi sisa plastik makanan dan bungkus permen sampai bertemu bak sampah. Bukan karena takut denda, tapi karena itu budaya. Malu kalau ketahuan buang sampah sembarangan,” kenangnya.
Menurut Najamuddin, solusi untuk menekan volume sampah di CFD sudah tersedia. Ia mencontohkan praktik di Cianjur, Jawa Barat, di mana Dinas Lingkungan Hidup setempat membuka pos penukaran sampah saat CFD. Dengan 50 botol plastik bekas, warga bisa mendapatkan minyak goreng, gula, atau mi instan.
Hasilnya, sampah plastik yang terkumpul naik drastis dari 10-20 kilogram per minggu menjadi 50 kilogram per minggu. “Warga yang tadinya buang, sekarang ngumpulin. Ini bisa ditiru di Mataram,” tegasnya.
Ia mendorong pemerintah daerah untuk memiliki strong willingness dalam menerapkan kebijakan pengelolaan sampah yang tepat. “Contoh baik sudah banyak. Mau atau tidak menerapkan best practices itu?” pungkasnya.