LORENG — Dua puluh anak muda berkaus hitam berkumpul di Tanah Pecatu Karang Tulis, Desa Karang Bajo, Bayan, Lombok Utara, baru-baru ini. Mereka bukan sedang mengikuti perlombaan atau wisata biasa, melainkan memulai ikhtiar menelusuri, merekam, dan menjaga adat dan budaya Gumi Bayan. Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Muhamad Ihwan, melepas langsung para relawan muda ini.
“Kalau bukan kalian yang menjaga dan mengenali budaya Bayan, siapa lagi?” kata Ihwan di hadapan para relawan, tanpa teks sambutan panjang.
Program eksplorasi bertajuk ADAB (Adat dan Budaya) ini akan berlangsung setiap Sabtu dan Minggu. Para relawan akan menyusuri desa-desa adat di wilayah Bayan, dari pesisir hingga pegunungan. Mereka mendokumentasikan praktik adat, merekam pengetahuan lokal, hingga melakukan digitalisasi warisan budaya yang selama ini hidup secara lisan.
Pimpinan Santiri Foundation, Tjatur Kukuh S., menyebut gerakan ini sebagai upaya membangun generasi muda yang tidak tercerabut dari akar identitasnya. “Anak-anak muda sekarang hidup di dunia digital. Maka budaya juga harus masuk ke ruang digital agar tetap hidup,” ujarnya.
Para relawan tidak hanya turun ke lapangan. Mereka juga akan belajar detailing tematik, dokumentasi visual, pemetaan adat, hingga digitalisasi pengetahuan lokal. Pendampingan dilakukan mentor dari Sekolah Adat Bayan dan Santiri Foundation.
Uniknya, eksplorasi budaya ini terhubung dengan program Sekolah Lapang Kearifan Lokal dan Pertanian WeSmArt (Wise and Smart Agriculture). Model pendidikan lapangan ini mempertemukan pengetahuan tradisional dengan pendekatan pertanian masa depan. Masyarakat adat Bayan memiliki tata kelola air, pola tanam, dan sistem perlindungan hutan yang diwariskan lintas generasi.
Muhamad Ihwan menantang para relawan untuk tidak berhenti di Bayan. “Mulailah dari Bayan. Tapi mimpi kalian jangan berhenti di Bayan. Kelak harus ada ekspedisi budaya NTB,” katanya. Ajakan itu disambut tepuk tangan dan sorak antusias para relawan.
Ihwan juga berjanji mendampingi para relawan berdialog langsung dengan Lalu Muhamad Iqbal agar suara generasi muda tentang kebudayaan dapat didengar lebih luas. Di Bayan, budaya tidak dipajang sebagai museum mati, melainkan dijalani sebagai cara hidup sehari-hari.